Film – The Legong: Dance of the Virgins (1935)
Pada film ini saya melihat pertama kali seperti film dokumentasi, tetapi dilihat dari sisi yang lain. ada kisah percintaan yang haru. Saya kira pembuatan film The Legong dance
sepenuhnya berlokasi di Desa Ubud Bali, Indonesia, dengan menggunakan pemain
asli penduduk setempat. Budaya Bali yang eksotis seperti upacara agama, tarian,
pembakaran mayat ngaben hingga wanita Bali yang bertelanjang dada, memiliki
daya Tarik.
Masuk kedalam filmnya Untuk ukuran film produksi
film tahun 1935, kualitas gambarnya bagus.Meski hanya menggunakan dua warna (merah-hijau), tapi gambarnya bagus.
Karena film belum ada suara percapakan. Alur cerita dibantu dengan teks. Hanya ada suara musik latar saja (misalnya suara gamelan).
Menurut saya film ini adalah sebuah film dokumentasi yang mempertontonkan kebudayaan bali di dambahkan sebuah cerita cinta didalam nya agar lebih menarik dan tidak monoton. Ada beberapa adegan tentang kehidupan dan kebudayaan masyarakat bali semisal ada adegan penjual tuak, tari Barong, Tari Legong, hingga sabung ayam, dan ada pula adegan mandi di sungai.
Film ini
berkisah tentang, seorang gadis Bali
bernama Putu, telah terpilih sebagai salah satu penari legong desanya. Putu
tertarik dan jatuh cinta kepada Nyong seorang pemuda penabuh gamelan. Akan
tetapi, Nyong tertarik kepada Saplak, adik Putu.
Saat akan menari legong di Pura Suci, Nyong menulis surat untuk
membuat janji bertemu Saplak. Namun surat tersebut tidak sengaja diketahui oleh
Putu. Setelah acara tarian legong berakhir, Nyong dan Saplak bertemu secara
sembunyi-sembunyi, dan Putu pun diam-diam mengikuti mereka.
Akhirnya, Putu menjadi frustrasi karena cintanya ditolak, dan
mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri melompat ke sungai dari jembatan
yang menghubungkan desanya tersebut. Film di akhiri dengan upacara ngaben
kepada jenasah Putu.










