Minggu, 22 September 2019

Film – The Legong: Dance of the Virgins (1935)

Film – The Legong: Dance of the Virgins (1935)

Pada film ini saya melihat pertama kali seperti film dokumentasi, tetapi dilihat dari sisi yang lain. ada kisah percintaan yang haru.  Saya kira pembuatan film The Legong dance sepenuhnya berlokasi di Desa Ubud Bali, Indonesia, dengan menggunakan pemain asli penduduk setempat. Budaya Bali yang eksotis seperti upacara agama, tarian, pembakaran mayat ngaben hingga wanita Bali yang bertelanjang dada, memiliki daya Tarik.

Masuk kedalam filmnya Untuk ukuran film produksi film tahun 1935, kualitas gambarnya bagus.Meski hanya menggunakan dua warna (merah-hijau), tapi gambarnya bagus.
Karena film belum ada suara percapakan. Alur cerita dibantu dengan teks. Hanya ada suara musik latar saja (misalnya suara gamelan).
Menurut saya film ini adalah sebuah film dokumentasi yang mempertontonkan kebudayaan bali di dambahkan sebuah cerita cinta didalam nya agar lebih menarik dan tidak monoton. Ada beberapa adegan tentang kehidupan dan kebudayaan masyarakat bali semisal ada adegan penjual tuak, tari Barong, Tari Legong, hingga sabung ayam, dan ada pula adegan mandi di sungai. 

Film ini berkisah tentang, seorang gadis Bali bernama Putu, telah terpilih sebagai salah satu penari legong desanya. Putu tertarik dan jatuh cinta kepada Nyong seorang pemuda penabuh gamelan. Akan tetapi, Nyong tertarik kepada Saplak, adik Putu.
Saat akan menari legong di Pura Suci, Nyong menulis surat untuk membuat janji bertemu Saplak. Namun surat tersebut tidak sengaja diketahui oleh Putu. Setelah acara tarian legong berakhir, Nyong dan Saplak bertemu secara sembunyi-sembunyi, dan Putu pun diam-diam mengikuti mereka.
Akhirnya, Putu menjadi frustrasi karena cintanya ditolak, dan mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri melompat ke sungai dari jembatan yang menghubungkan desanya tersebut. Film di akhiri dengan upacara ngaben kepada jenasah Putu.

Selasa, 19 Maret 2019

Bandung 2016

Travel in Bandung during college 
Jalan-Jalan ke Bandung dengan Spot Instagramable? Ini Tempatnya!

Hello my name is Okky Andriana and this is my little story when I was in Bandung during
college. Bandung is a tourist destination with culinary, shopping and nature tourism. especially what I like is nature. Here are some of the attractions I have searched in Bandung even though with low budget.


1. Farmhouse Lembang

Bisa dibilang objek wisata ini adalah tempat wisata keluarga  di Bandung dan juga instagramable.






Farmhouse Lembang dengan Konsep Eropa Klasik
Farm House Lembang saya dulu sempat main ke sana dan cukup menyenangkan dari tiket kita dapat menukarkan dengan satu cup susu murni produk lokal yaitu lembang. dan juga terdapat gaya farming di Eropa yang digabung dengan keindahan alam pegunungan tropis.Pengelola menyediakan rumah-rumah bergaya Eropa yang dapat dijadikan spot untuk fotografi.

Jembatan Cinta

Pernah mendengar nama jembatan cinta. Jika belum, tidak ada salahnya mengunjungi farmhouse lembang Bandung dan melihat secara langsung beragam gembok yang dikunci oleh sepasang anak manusia berlainan jenis untuk merepresentasikan cinta mereka.





Gembok Cinta
Gembok Cinta
Kandang-kandang hewan dan rumah kurcaci adalah tempat untuk anak-anak, dan jembatan ini dibangun khusus untuk orang dewasa. Jembatan ini terinspirasi dari jembatan-jembatan sejenis yang berada di luar negeri, seperti Eropa dan asia.
Gembok merepresentasikan kekekalan cinta yang tidak akan terbuka. Inilah tempat romantis untuk mengungkapkan perasaan cinta Anda kepada pasangan.



2. Climbing Manglayang Mountain

Gunung Manglayang. Gunung ini merupakan rangkaian dari gunung-gunung yang berkaitan dengan Legenda Sangkuriang (BurangrangTangkuban PerahuBukit Tunggul – Gunung Manglayang) dan merupakan gunung yang terendah diantara 4 gunung tersebut.

Perjalanan dari Kost hingga ke Pos Pendakian Baru Bereum sekitar satu jam . Bilang aja sampai warung buat mendaki ke Gunung Manglayang.
 
Setelah sampai di Pos ini, ambil jalur ke arah kiri yang melewati sungai kecil hingga ke kebun jeruk warga. Jalur ke kanan (yang ada di gambar) adalah jalur ke arah area perkemahan.
Setelah melewati sungai, ambil jalur ke arah kanan sedikit kemudian kiri dan cari jalan yang cenderung langsung menanjak. Jalur pendakian dari Baru Bereum adalah jalur yang paling vertikal daripada yang lainnya, mulai dari awal hingga sampai puncak dengan kemiringan sekitar 45 – 75 derajat dari awal hingga akhir, tanpa jeda. Dimulai dengan tanjakan tanah liat diselingi tanjakan berbatu yang sangat licin dan merupakan jalur air, sehingga sebenarnya sangat tidak direkomendasikan melakukan pendakian pada musim hujan. Sumber air pun tidak ada sepanjang jalur.
The length of our climb to Puncak Bayangan is around 3.5 hours with a little rainy weather. We are targeting to set up tents there. Take the left lane if you find a branch after an encouragement sign. The path to the right is the path to the Peak of Manglayang.

Selama 3,5 jam itu kami terpaksa belepotan dengan tanah basah karena jalurnya yang lumayan aduhai ditambah dengan kabut yang tebal dengan jarak pandang sekitar 1-2 meter. Cabe rawitlah pokoknya Manglayang!

Arriving at the Shadow Peak, we immediately rushed to set up a tent. Incidentally there are already 2 tents. We established 2 of them. Shortly after the tent stood, it was raining hard. Without thinking we immediately took the position to enter the tent and get ready to sleep. Finally canceled the program to eat at night.

This Shadow Peak is a recommended place to set up a tent, because in the morning you can immediately see open scenery. For example citylights from Bandung + Jatinangor and or sunrise with a sensation on the edge of a cliff.
 

Tidak berhenti sampai di sini, kami masih harus meneruskan perjalanan ke Puncak Manglayang. Cari saja tanda/petunjuk untukmenuju ke Puncak Manglayang di sekitar area camp ini.
Perjalanan menuju Puncak Manglayang kami tempuh sekitar 1 jam dengan track yang hampir sama, terus menanjak. Mantaaap! :’D
 Sampai di puncak rasanya lega banget tentunya, setelah melewati track yang aduhai jilid 2, yang mana stamina sudah mulai ga oke lagi, heheu. Alhamdulillah, kami sakses ke Puncak Manglayang 1818 MDPL. Dan ternyata puncaknya lumayan luas, namun tidak ada pemandangan terbuka karena tertutup rindangnya pohon sekitar.

The cool thing about this route is that we can see the whole area of ​​Bandung from above. And at the end of the trip, you will be greeted with leafy pine forests and food stalls. Hunger + direct thirst can be eradicated, heheu

3. Lake Situ Patenggang

Located not far from Ciwidey White Crater, this lake offers a magical sensational view.

Surrounded by valleys and green trees, this lake looks so calm and it feels like to relax here with your family and closest friends.

Of course I rented a boat to sail and sail the lake. can also visit the small island in the middle of the lake.





wisata murah di bandung
Situ Patenggang
Memang tidak banyak yang bisa dilakukan disini, tidak banyak fasilitas yang tersedia seperti objek wisata lainnya, tetapi pemandangan dan ketenangan adalah hal utama yang ditawarkan oleh Danau Situ Patenggang. 

4. Saung Angklung Udjo







https://asset.kompas.com/data/photo/2014/11/21/2149525saung-angklung-udjo780x390.jpg
Different other tourist attractions, this place offers a cultural tourism display by holding an art performance consisting of angklung orchestra, mask dance, helaran, puppet show, and others. Trying to introduce not only to local but also foreign tourists regarding Sundanese culture, Saung Angklung itself has a fixed schedule of art performances like the Kecak dance in Bali.
Dahulu waktu studi tour sma saya melakukan kunjungan kesini dan keren banget heu heu bisa lebih megenal lebih dekat lagi dengan kebudayaan sunda, saya bermain angklung merasa senang heu heu
Tempat ini juga memiliki dan dikelilingi tempat makan untuk  menikmati makan siang atau makan malam ketika kelaparan, so jangan takut untuk mengunjungi tempat ini ya untuk belajar lebih tentang budaya Sunda ketika kamu jalan-jalan ke Bandung!


5. Kiwari Farmers Bandung

Kiwari Farmers Bandung can be said to be a coffee place that is still corny in Bandung. When I'm coffee here (January 2019). Even though it's new, its potential is ok. It could be that this place will be booming ... The uniqueness of this place is the price of the coffee menu. When viewed on the menu board, only Malabar Luwak coffee has a price (Rp. 30k). Other coffee menus? blank Indeed, here we can pay for the coffee menu according to our judgment. Daaan, the concoction of the coffee can be adjusted according to our wishes heu heu ....


 kiwari farmers bandung


Saat kesini, saya memilih kopi gunung wayang (kalau ngga salah inget..). Ternyata racikan awalnya terlalu ‘light’ buat saya. Mas barista-nya cekatan menggantinya dengan racikan yang lebih “strong”.. ngga perlu bayar lagi. Disini kita juga bisa bebas ngobrol seputar kopi berasama mas-mas disini. Jangan khawatir, meskipun ngga ngerti apa-apa soal kopi (seperti saya), bakal dapet ilmu lebih dalam seputar dunia kopi.. asyik lho.

Soal bayar kopi sesuai penilaian, menurut si mas disini bertujuan untuk mengenalkan cara menikmati kopi yang ‘benar’. Yah, idealnya cara ngopi itu di giling terus seduh ya, bukan sobek terus seduh 😀 . Cuma sayang, biasanya harganya mahal. Because that's the concept of "pay according to one's own judgment" was born; can get quality coffee but still affordable.